lihat anak-anak itu
penghuni negeri debu
mereka mengulum senyum di lampu merah
dengan telapak tangan menengadah
mereka segera berpindah setiap kali mendapatkan
sekeping, dua keping, selembar, dua lembar atau sekedar gelengan kepala
mereka kembali kepada gerombolan temannya saat lampu berganti hijau
dan kembali lagi kehadapan pemakai jalan saat lampu kembali merah
behitu seterusnya, bahkan entah untk berapa lama
begitulah, berjuta-juta anak pertiwi harus seperti itu
mereka merelakan tak belajar untuk sesuap nasi
mereka merelakan tak menuntut ilmu demi bertahan hidup
bahkan mereka merelakan tak bermain, tak tidur siang seperti anak-anak lain
mereka merelakan itu demi hidup yang harus berlanjut
sementara di sisi lain...
para penghuni negeri di atas awan dengan mudah mengambil yang bukan haknya
penghuni di atas kursi empuk itu sibuk menebar fitnah, saling menjatuhkan
sibuk mencari kursi awan yang lebih empuk
sibuk mencari kesempatan, mencuri, mencomot rupiah yang bahkan tak pantas mereka sentuh, apalagi nikmati
haruskah seperti ini?
sebeginikan perbedaan antara negeri di atas awan dan negeri debu?
tapi pertanyaanku tak terarah, tak terjawab
mungkin, seperti inilah hidup, seperti inilah dunia
pahit
dan tak adil bagi sebagian orang
berbeda dengan akhirat
adil
dan manis bagi sebagian orang...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar